jobs indonesia site

Top Blog

TopOfBlogs

Senin, 21 Juni 2010

Berapa Gaji yang “Harus” Saya Minta?

Bagian yang paling merepotkan dalam proses wawancara kerja adalah menjawab pertanyaan mengenai gaji yang diminta. Banyak orang merasa “serba salah”, menyebut angka yang terlalu rendah takut dianggap kualitas juga rendah, menyebut angka terlalu tinggi, khawatir perusahaan tidak mampu membayar sehingga menyebabkan yang bersangkutan tidak jadi diterima.

Saran yang sering terdengar, sebutlah angka yang standar. Ini juga tak kalah ribetnya: yang standar itu seberapa? Belum lagi kesan yang muncul bahwa orang yang menjawab sesuai standar berarti tidak memahami keunggulan dirinya.

Bukan Tabu

Saat ini, negosiasi mengenai gaji tidak lagi dipandang tabu oleh sebagian besar perusahaan, namun Anda diharapkan mengumpulkan informasi dulu agar dapat bernegosiasi dengan baik. Lakukan survei terlebih dahulu, sampai sejauh yang bisa Anda lakukan.

Survei

Cek ke teman atau teman dari teman yang mempunyai pekerjaan sejenis di perusahaan yang sejenis. Apabila Anda tidak bisa memperoleh data yang diinginkan, carilah informasi mengenai gaji dari pekerjaan lain yang satu level dalam tingkatan korporasinya, tapi di perusahaan sejenis, atau pekerjaan sejenis di perusahaan yang berbeda jenis atau skala.

Tiga Faktor

Perlu diingat, pekerjaan sejenis di perusahaan sejenis juga belum tentu mewakili nilai (gaji) yang sama. Gaji ditentukan oleh 3 faktor: harga pekerjaannya, harga orang yang memegang jabatan atau pekerjaan tersebut, dan harga pasar. Cari tahu juga, apakah gaji tersebut merupakan harga pekerjaannya sendiri atau harga pemegang jabatannya.

Tentukan BATNA Anda

Apa itu? Best Alternative to a Negotiated Agreement. Caranya:

Pertama, cek diri sendiri, apakah Anda pindah karena gaji, karir, ketenangan kerja, stabilitas atau hal lain. Kalau Anda pindah bukan karena alasan gaji, maka gaji tidak perlu terlalu difokuskan dalam negosiasi, yang berarti permintaan bisa berkisar dari 0-10% dari gaji sekarang. Seandainya gaji menjadi faktor penting buat Anda dan menjadi motif Anda pindah kerja, maka Anda perlu kombinasi antara peningkatan 10%-25% dari gaji sekarang dengan hasil survei Anda. Seandainya hasil survei Anda menemukan bahwa standar di luar sana jauh lebih besar, katakanlah 50% dari gaji Anda, bukan berarti Anda bisa langsung mengajukan angka. Dan, hasil survei yang lebih bisa dipakai adalah harga pekerjaan, bukan harga pemegang jabatannya.

Persepsi Perusahaan

Kedua, ingat selalu: persepsi perusahaan mengenai tingkat kemampuan Anda antara lain ditentukan oleh seberapa tinggi gaji Anda sekarang. Jadi, mereka bisa saja melihat Anda sebagai seseorang yang sedang mencari “peruntungan” dengan meminta gaji lebih tinggi. Efektifnya adalah “win-win”: Anda bisa menentukan nilai tengah dari jangkauan 10%-50% (sekitar 30%-35%). Dan, inilah cara Anda menentukan BATNA: tentukan harga yang hendak Anda minta, tentukan bottom-line Anda apabila terjadi negosiasi, dan stick to it. Artinya, Anda bisa dengan percaya diri meminta, dan berani walk away apabila tidak sesuai dengan permitaan Anda.

Tips Lanjutan (1)

Jadi, “Berapa gaji yang Anda minta?” Rahasianya bukan pada angkanya, tapi kalimat yang membungkus permintaan Anda tersebut. Misalnya, “Saya akan sangat senang apabila memperoleh gaji Rp…, tapi Bapak/Ibu tentu sudah melihat CV saya dan mempunyai gambaran sendiri mengenai nilai yang bisa saya kontribusikan ke perusahaan ini, dan tentunya Bapak/Ibu yang tahu bagaimana kemampuan dan harapan saya bisa cocok dengan standar perusahaan ini, jadi saya akan sangat senang apabila bisa mendengar juga dari Bapak/Ibu, kira-kira berapa yang ditawarkan kepada saya.”

Tips Lanjutan (2)

Apabila pertanyaan tentang gaji ini muncul terlalu awal, ada baiknya Anda tidak langsung menjawab. Kalau ini terjadi, Anda justru mempunyai kesempatan lebih banyak untuk menunjukkan citra profesional Anda! Katakanlah, misalnya, “Apabila Bapak/Ibu tidak berkeberatan, saya ingin tahu lebih jauh dulu tentang peran dan tanggung jawab pekerjaan saya sebelum menjawab pertanyaan ini. Saya belum mendapat atau merasakan gambaran utuhnya.”

Kesimpulan

Jadi: lakukan survei, tentukan BATNA, bungkus permintaan Anda dengan citra yang baik, dan ungkapkan pada saat yang tepat!

Sumber : portalhr.com

careers, Jobs Indonesia, Indonesia Vacancy


Bookmark and Share

Sukses Wawancara dengan Jawaban Taktis

Surat lamaran kerja yang optimis tidak selalu menunjukkan bahwa orangnya juga seoptimis apa yang dibeberkannya dalam berkas-berkas itu. Begitu pewawancara menanyakan hal yang sederhana saja, seperti “Ceritakan diri Anda dalam beberapa kalimat,” banyak pelamar yang tergagap-gagap. Yang sering terjadi, bukannya memberikan jawaban sesuai yang diminta, melainkan justru merendahkan dengan mengatakan, “Ah, saya orangnya biasa-biasa saja.”

Selama ini memang banyak tips-tips konvensional yang menyarankan agar orang sebaiknya merendahkan diri ketika menghadapi wawancara kerja, sebagai upaya untuk mencuri simpati pewawancara. Tapi, zaman sudah berubah. Jawaban yang terlalu merendah dan banyak basi-basi hanya menunjukkan bahwa Anda sebenarnya tidak yakin dengan diri Anda. Perusahaan masa kini tidak membutuhkan karyawan seperti itu.

Yang diperlukan sekarang adalah jawaban yang taktis, yang menunjukkan siapa diri Anda dan layakkah Anda bergabung dengan perusahaan yang sedang Anda lamar. Ini contoh jawaban yang taktis, ketika Anda diminta menceritakan diri Anda.

“Saya Rina, anak pertama dari lima bersaudara. Sejak SMA, saya aktif di koran sekolah. Di situ saya menulis, mewawancarai orang-orang di sekitar saya dan berhubungan dengan mereka. Dari situ saya sadar alangkah menariknya bisa bertemu dengan orang banyak, berdiskusi dan mengetahui banyak hal dari mereka. Saya juga senang musik, membaca dan traveling. Ketika kuliah, saya sering menulis pengalaman jalan-jalan saya, atau sekedar memberi referensi kaset yang sedang laris untuk koran kampus saya.”

Meskipun bukan jawaban yang berbunga-bunga, tapi si pewawancara telah menunjukkan bahwa dirinya terbuka, ramah dan punya rasa ingin tahu yang besar. Dengan kata lain, itu jawaban yang cukup cerdas dan efektif untuk menggambarkan bagaimana yang bersangkutan menyatakan secara implisit bahwa dirinya merasa layak ditempatkan pada posisi yang diincarnya. Pewawancara butuh jawaban seperti itu –cukup singkat, tapi menunjukkan optimisme yang tak dibuat-buat.

Kesimpulannya, kalau Anda dipanggil untuk wawancara, sebisanya persiapkan diri dengan baik. Rasa percaya diri dan menunjukkan bahwa Anda menjadi diri sendiri adalah yang terpenting. Pewawancara tidak butuh jawaban yang berbunga-bunga, berapi-api apalagi munafik. Pada kesempatan pertama, mereka biasanya ingin melihat bagaimana si pelamar menghargai diri sendiri. Buatlah beberapa poin tentang kemahiran Anda serta hal-hal yang Anda sukai dan inginkan untuk masa depan Anda. Setelah menemukan poin -poin itu, berlatihlah mengemukakannya dalam sebuah jawaban singkat yang cerdas dan optimis.

Sumber : portalhr.com

careers, Jobs Indonesia, Indonesia Vacancy


Bookmark and Share

Temukan Karir Impian Anda di Job Fair


Salah satu akses besar yang memberikan informasi peluang kerja pada pencari kerja, baik yang berasal dari kalangan professional maupun mahasiswa atau fresh graduate adalah bursa lowongan kerja atau job fair. Inilah event yang menghadirkan banyak perusahaan yang sedang merekrut karyawan pada satu tempat, disaat yang bersamaan.

Saat ini semakin banyak perusahaan yang menyadari bahwa bursa kerja adalah cara ampuh untuk merekrut banyak karyawan dalam waktu yang relatif singkat. Umumnya mereka memanfaatkan bursa kerja untuk merekrut dan melakukan seleksi awal karyawan untuk entry dan middle level. Bagi mereka, bursa kerja menghemat waktu, tenaga dan dana untuk merekrut sekaligus melakukan screening awal terhadap kandidat.

Di event ini mereka bahkan bisa melakukan interview awal. Proses rekrutmen berjalan dengan cepat dan efisien di bursa kerja karena job seeker yang datang telah ter-filter sesuai dengan jenis bursa kerja itu sendiri. Bursa kerja juga seringkali jadi event untuk melakukan branding bagi perusahaan yang memiliki target pasar sesuai dengan pengunjung job fair.

Di Indonesia, bursa lowongan kerja cukup sering diadakan oleh perusahaan yang memang bergelut di bidang dunia kerja, institusi pemerintahan, beberapa universitas swasta dan negeri terkemuka bahkan perusahaan besar nasional yang menyelenggarakannya khusus untuk kebutuhan internal mereka.

Job fair adalah kesempatan yang sayang dilewatkan jika Anda memang sedang berburu kerja. Selain untuk mendapatkan informasi pekerjaan, event ini bisa Anda manfaatkan untuk memperluas network dan mendapatkan informasi mengenai perkembangan di bidang Anda. Agar kunjungan Anda efektif dan efisien ada beberapa hal yang patut diperhatikan.

1. Job fair bukanlah tempat untuk 'window shopping' lowongan kerja. Jika Anda hanya berniat untuk jalan-jalan dan melihat-lihat dengan pikiran bahwa siapa tahu ada pekerjaan yang cocok, maka percayalah bahwa Anda hanya menghabiskan waktu dan membuang tenaga saja. Job fair di Indonesia bisa dipastikan akan selalu dipenuhi dengan pengunjung. Terlebih lagi saat ini ketika keadaan ekonomi global maupun nasional tidak terlalu menguntungkan dan banyak perusahaan harus 'merumahkan' karyawan mereka. Datanglah ke ajang ini dengan niat dan persiapan serius untuk mencari kerja.

2. Ketahuilah jenis tiap job fair. Terkadang event ini khusus diselenggarakan untuk mengakomodasi kebutuhan akan tenaga kerja pada bidang tertentu. Beberapa universitas sering menyelenggarakan bursa kerja khusus untuk bidang teknologi informatika, ada pula job fair yang khusus untuk para pencari kerja bidang marketing. Tidak jarang pula sebuah perusahaan khusus menyelenggarakan bursa kerja untuk memenuhi kebutuhan rekrutmen mereka sendiri. Karena itulah pentingnya mengetahui informasi jelas mengenai jenis bursa kerja yang akan Anda kunjungi untuk memastikan apakah Anda target yang tepat dari bursa kerja tersebut.

3. Cari informasi sebesar-besarnya mengenai job fair tersebut Selain jenis, tempat, waktu, biaya pendaftaran, Anda juga sebaiknya mengetahui denah bursa kerja, letak booth perusahaan-perusahaan incaran Anda. Dengan demikian Anda tidak perlu berkeliling membuat waktu saat mencoba melamar di perusahaan incaran Anda.

4. Update CV Anda dan buatlah cover letter general. Sebelum Anda mengunjungi job fair, sempatkan untuk mengupdate CV Anda. Print beberapa CV dan cover letter di kertas yang representatif dan bawalah dengan map plastic keras agar tidak 'lecek'. Jika job fair yang akan dikunjungi memakai metode paperless, maka Anda hanya perlu menyiapkan soft copy CV dan surat lamaran Anda. JobsDB.com biasanya menyelenggarakan job fair dengan metode ini. Simpan dalam flash disk dan pastikan ukurannya tidak melebihi ketentuan yang berlaku. Pastikan juga bahwa flash disk Anda bebas virus karena walaupun biasanya ada help desk yang bersedia membantu membersihkan file Anda, namun hal ini akan menghabiskan banyak waktu Anda. Selain bisa mengunggah CV on the spot, pengunjung juga sangat disarankan untuk terlebih dulu register dan mendaftarkan/upload CV mereka di website job fair. Hal ini akan menghemat banyak waktu dan Anda akan terhindar dari antrian yang mengular.

5. Penampilan adalah salah satu hal penting dalam melamar kerja di bursa kerja. Kesan pertama yang Anda berikan mau tidak mau akan tercipta oleh penampilan Anda. Anda tidak perlu memakai blazer/jas lengkap dan bersepatu tinggi (jika Anda wanita). Kenakan pakaian rapi dan formal seperti celana bahan, kemeja rapi dan sepatu tertutup. Untuk sementara, tanggalkan tindikan di bibir, alis, lidah atau tempat-tempat yang tidak lazim lainnya.

6. Siapkan diri jika Anda ternyata harus langsung menghadapi wawancara. Jangan panik jika Anda diminta untuk langsung wawancara, justru ini menunjukkan bahwa perusahaan tertarik dengan kualifikasi Anda. Buat list jawaban dari pertanyaan berikut ini :

1.Ceritakan tentang diri Anda.
2.Apa yang membuat Anda merasa cocok untuk pekerjaan ini.
3.Apa kelebihan dan kekurangan Anda.
4.Bagaimana Anda melihat diri Anda lima tahun mendatang.
5. Siapkan fisik Anda Istirahat dengan cukup dan jangan lupa makan sebelum Anda mengunjungi job fair. Gula darah yang rendah akan membuat Anda kehilangan konsentrasi sehingga akan menyulitkan Anda nantinya saat menjawab pertanyaan dari interviewer.


careers, Jobs Indonesia, Indonesia Vacancy




Bookmark and Share




Mencari Peluang Kerja di Luar Negeri

Dalam bayangan sebagian besar masyarakat, bekerja di luar negeri identik dengan menjadi TKI di sektor-sektor informal. Padahal, peluang untuk bekerja di sektor formal juga cukup besar. Sebab, beberapa negara sudah membuka diri melalui Foreign Trade Agreement yang memungkinkan pekerja terampil asing bekerja di sana, termasuk dari Indonesia. Peluang kerja tersebut selain Malayasia, Singapura, Brunei Darussalam, negara Timur Tengah, Eropa, Amerika Serikat dan Jepang.

Kebutuhan akan tenaga kerja di suatu negara berbeda satu sama lain. Brunai Darussalam, misalnya, sangat terbuka kesempatan sebagai guru, dan bekerja di perhotelan. Sedangkan Amerika dan Kanada biasanya membutuhkan mereka yang ahli di bidang teknologi dan medis seperti perawat. Tapi, Anda tidak perlu pesimis, karena tidak menutup kemungkinan, terbuka juga peluang di bidang lain. Ada banyak cara untuk mendapatkan informasi kerja di sana, di antaranya:

1. Departemen Tenaga Kerja
Setiap departemen tenaga kerja di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan, rutin memajang iklan lowongan pekerjaan di beberapa negara. Di sini biasanya ada perusahaan penyalur tenaga kerja resmi yang mendapatkan job order dari pengguna jasa atau agensi lain di luar negeri. Biasanya, perusahaan perekrutan ini juga mengiklankan lowongan kerja di surat kabar dan internet.

2. Dunia Maya
Media internet banyak sekali menyajikan berbagai informasi mengenai lowongan kerja. Ragam lowongan yang diinformasikan juga beragam, sesuai bidang dan keterampilan Anda. Caranya, setelah situs kerja terbuka, kliklah region atau negara yang ingin dituju. Dari situ bisa dilihat perusahaan dan bidang-bidang apa saja yang dibutuhkan, beserta persyaratannya. Anda tinggal mengirim lamaran Anda ke sana. Selain dengan jalan mencari info lowongan kerja, Anda juga bisa mengiklankan diri Anda di situs tersebut. Kemukakan secara spesifik bidang dan keterampilan yang dimiliki. Situs-situs yang bisa Anda datangi di antaranya www.jobsdb.com, www.americajobnet.com, www.karir.com, www.msn.com, www.monster.com, www.usajobs.com dan www.opm.gov.

3. Networking
Selain itu, informasi juga bisa Anda dapatkan lewat networking, bisa teman atau saudara yang sudah tinggal dan bekerja di sana. Perluaslah lingkungan pergaulan Anda. Jangan sungkan menanyakan lowongan pekerjaan pada teman yang berdomisili di luar negeri yang sesuai dengan keahlian Anda. Jika belum mempunyai networking di negara yang menjadi incaran Anda, mulailah mencari lewat chatting. Jalinlah pertemanan di dunia maya. Karena mungkin saja dari sini peluang itu datang.

4. Head hunter
Anda bisa mendatangi situs-situs head hunter di luar negeri dan mem-posting CV atau resume Anda. Sebagian besar head hunter memang mendahulukan pencari kerja lokal, tapi jika kualifikasi yang Anda miliki tidak ditemui oleh calon-calon dari negaranya, besar kemungkinan Andalah yang terpilih. Untuk memudahkan Anda mencari head hunter di luar negeri di internet, Anda bisa mencoba kata kuncinya, executive search firm, atau recruitment and placement. Di web ini akan menerangkan secara rinci bagaimana mem-posting resume Anda. Carilah kata-kata How to Apply for Jobs atau yang sejenisnya.

5. Perusahaan Asing
Jika telah bekerja di perusahaan multinasional, sebenarnya Anda sudah berjalan selangkah untuk menggapai mimpi. Beberapa perusahaan multinasional di sini, juga membuka peluang cukup besar pada Anda untuk bekerja di luar Indonesia. Tak menutup kemungkinan, jika Anda terlihat sangat qualified, Anda akan dipindah ke anak cabang di negara lain. Kesempatan yang datang bisa berupa pindah lokasi kerja, magang selama beberapa bulan, bahkan ada yang dikontrak 1-2 tahun di negara yang ditentukan perusahaan. Beberapa perusahaan asing juga memberi kesempatan karyawannya untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain di luar Indonesia atas referensi atasannya.

6. Terjun Bebas
Cara terakhir yang jadi pilihan cukup banyak orang adalah dengan terjun bebas. Dengan berbekal modal nekat dan keberuntungan, biasanya mereka berangkat ke negara yang dituju. Tapi cara ini sangat riskan, karena Anda tak punya izin kerja di sana dan sewaktu-waktu bisa dideportasi pihak berwenang. Biasanya visa yang digunakan adalah visa kunjungan atau wisata. Anda juga harus punya dana besar untuk biaya hidup di sana selama beberapa bulan, minmal tiga bulan sebelum Anda mendapat pekerjaan. Dan yang lebih penting, Anda harus menyiapkan uang untuk sewaktu-waktu kembali ke Indonesia.


careers, Jobs Indonesia, Indonesia Vacancy


Bookmark and Share

Bertanya Apa Saat Wawancara Kerja?

Umumnya, saat wawancara kerja, perusahaanlah yang bertanya kepada si pelamar. Namun, di akhir wawancara kerja, biasanya pelamar diberikan kesempatan untuk bertanya. Semua artikel tentang pekerjaan menyarankan untuk memanfaatkan kesempatan untuk bertanya. Namun, apa yang sebaiknya kita tanyakan di saat krusial seperti itu?

1. Profil perusahaan
Ada kalanya, pewawancara memberikan presentasi singkat mengenai profil perusahaan (sangat disarankan Anda sudah terlebih dahulu mempelajarinya sebelum menghadiri wawancara). Bila pewawancaranya tidak melakukan hal ini, maka Anda bisa bertanya lebih jauh. Misal, tanyakan kapan perusahaan tersebut didirikan, target market-nya siapa, atau pesaingnya siapa. Tanyakan juga profil pemilik perusahaan tersebut; apakah perusahaan keluarga atau suatu kelompok usaha.

2. Peraturan umum perusahaan
Pertanyaan tentang jam kerja perusahaan atau ketentuan lembur bisa Anda tanyakan dalam kesempatan ini.

3. Struktur organisasi
Anda boleh mengajukan pertanyaan mengenai struktur organisasi di perusahaan tersebut, khususnya menyangkut kepada siapa Anda akan bertanggung jawab, hubungan dengan rekan yang berada di jenjang/departemen yang sama atau di departemen terkait. Bila posisi yang ditawarkan adalah supervisor ke atas, Anda juga bisa bertanya tentang jumlah anak buah Anda.

4. Paket remunerasi
Hati-hati dengan topik sensitif ini. Jangan mendahului pewawancara. Ajukan pertanyaan hanya bila pewawancara sudah membuka topik ini. Umumnya ada sesi pembicaraan mengenai gaji dan biasanya ini terjadi pada tahap-tahap akhir. Bila pewawancara sudah membuka pembicaraan dengan topik ini, Anda bisa mengajukan pertanyaan, bukan hanya tentang gaji, tetapi juga kompensasi lainnya. Misalnya tentang kesempatan mengikuti seminar/pelatihan, komisi, tunjangan kesehatan, dan lainnya.

5. Karakter pekerjaan/posisi itu sendiri
Hal terakhir ini sangat penting. Biasanya pertanyaan-pertanyaan ini lebih tepat bila Anda ajukan langsung kepada user atau calon atasan Anda. Tanyakan tentang deskripsi pekerjaan yang akan ditugaskan kepada Anda, target yang akan dibebankan, apakah ada penugasan ke luar kota, bagaimana prestasi Anda akan diukur dan lain-lain.



careers, Jobs Indonesia, Indonesia Vacancy


Bookmark and Share


PRODUKTIFITAS DAN BUDAYA KERJA INDONESIA

Insititute for Management of Development, Swiss, World Competitiveness Book (2007), memberitakan bahwa pada tahun 2005, peringkat produktivitas kerja Indonesia berada pada posisi 59 dari 60 negara yang disurvei. Atau semakin turun ketimbang tahun 2001 yang mencapai urutan 46. Sementara itu negara-negara Asia lainnya berada di atas Indonesia seperti Singapura (peringkat 1), Thailand (27), Malaysia (28), Korea (29), Cina (31), India (39), dan Filipina (49). Urutan peringkat ini berkaitan juga dengan kinerja pada dimensi lainnya yakni pada Economic Performance pada tahun 2005 berada pada urutan buncit yakni ke 60, Business Efficiency (59), dan Government Efficiency (55). Lagi-lagi diduga kuat bahwa semuanya itu karena mutu sumberdaya manusia Indonesia yang tidak mampu bersaing. Juga mungkin karena faktor budaya kerja yang juga masih lemah dan tidak merata. Bisa dibayangkan dengan kondisi krisis finansial global belakangan ini bisa-bisa posisi Indonesia akan bertahan kalau tidak ada remedi yang tepat.

Produktivitas kerja jangan dipandang dari ukuran fisik saja. Dalam pemahaman tentang produktifitas dan produktif disitu terkandung aspek sistem nilai. Manusia produktif menilai produktivitas dan produktif adalah sikap mental. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin; hari esok harus lebih baik dari hari ini. Jadi kalau seseorang bekerja, dia akan selalu berorientasi pada produktivitas kerja di atas atau minimal sama dengan standar kerja dari waktu ke waktu. Bekerja produktif sudah sebagai panggilan jiwa dan kental dengan amanah. Dengan kata lain sikap tersebut sudah terinternalisasi. Tanpa diinstruksikan dia akan bertindak produktif. Itulah yang disebut budaya kerja positif (produktif). Sementara itu budaya bekerja produktif mengandung komponen-komponen: (1) pemahaman substansi dasar tentang bekerja, (2) sikap terhadap karyawanan, (3) perilaku ketika bekerja, (4) etos kerja dan (5) sikap terhadap waktu. Pertanyaannya apakah semua kita sudah berbudaya kerja produktif?

Saya menduga budaya kerja produktif di Indonesia, belum merata. Bekerja masih dianggap sebagai sesuatu yang rutin. Bahkan di sebagian karyawan, bisa jadi bekerja dianggap sebagai beban dan paksaan terutama bagi orang yang malas. Pemahaman karyawan tentang budaya kerja positif masih lemah. Budaya organisasi atau budaya perusahaan masih belum banyak dijumpai. Hal ini pulalah juga agaknya yang kurang mendukung terciptanya budaya produktif. Perusahaan belum mengganggap sikap produktif sebagai suatu sistem nilai. Seolah-olah karyawan tidak memiliki sistem nilai apa yang harus dipegang dan dilaksanakan. Karena itu tidak jarang prusahaan yang mengabaikan kesejahteraan karyawan termasuk upah minimunya. Ditambah dengan rata-rata pendidikan karyawan yang relatif masih rendah maka produktivitas pun rendah. Karena itu tidak heran produktivitas kerja di Indonesia termasuk terendah dibanding dengan negara-negara lain di Asia. Mengapa bisa seperti itu?

Hal demikian bisa dijelaskan lewat formula matematika sederhana. Produktivitas kerja merupakan rasio dari keluaran/output dengan inputnya. Bentuk output dapat berupa barang dan jasa. Sementara input berupa jumlah waktu kerja, kondisi mutu dan fisik karyawan, tingkat upah dan gaji, teknologi yang dipakai dsb. Jadi output yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh faktor input yang digunakan. Dengan demikian produktivitas kerja di Indonesia relatif rendah karena memang rendahnya faktor-faktor kualitas fisik, tingkat pendidikan, etos kerja, dan tingkat upah dari karyawan. Hal ini ditunjukkan pula oleh angka indeks pembangunan manusia di Indonesia (gizi, pendidikan, kesehatan) yang relatif lebih rendah dibanding di negara-negara tetangga.

Seharusnya faktor-faktor tersebut perlu dikuasai secara seimbang agar para karyawan mampu mencapai produktivitas yang standar. Pendidikan dan pelatihan perlu terus dikembangkan disamping penyediaan akses teknologi. Kompetensi (pengetahuan, sikap dan ketrampilan) karyawan menjadi tuntutan pasar kerja yang semakin mendesak. Dengan kata lain suasana proses pembelajaran plus dukungan kesejahteraan karyawan perlu terus dikembangkan.

careers, Jobs Indonesia, Indonesia Vacancy


Bookmark and Share

Rahasia Yang Perlu Anda Jaga Dari Teman Kantor

Bersosialisasi memang wajib dilakukan dalam pekerjaan Anda. Menjalin hubungan yang baik dengan rekan kerja tidak hanya membuat pekerjaan Anda jadi lebih lancar, tetapi juga membuat Anda lebih nyaman bekerja. Lingkungan yang bersahabat adalah salah satu faktor yang bisa membuat seorang karyawan bersemangat untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.

Hubungan yang baik dengan rekan kerja terkadang bisa berkembang lebih jauh menjadi teman akrab. Anda menghabiskan waktu sesudah jam kerja dengan dia, ‘ngobrol’ panjang lebar tentang persoalan pribadi maupun tentang pekerjaan. Namun seakrab-akrabnya Anda dengan rekan kerja, ada batasan tentang hal yang bisa Anda ‘obrolkan’ dengan mereka. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1.Usaha Anda untuk mencari pekerjaan baru. Mungkin Anda excited saat menemukan satu kesempatan kerja yang sesuai atau dipanggil untuk menjalani tes dan wawancara. Anda ingin segera berbagi cerita dengan orang terdekat Anda, termasuk teman yang juga rekan kantor. Namun, betapapun besarnya keinginan tersebut, lebih baik Anda tahan ‘nafsu’ bercerita. Bukan tidak mungkin berita ini akan beredar dikalangan manajemen dan mereka mulai meragukan loyalitas Anda pada perusahaan. Padahal Anda sudah bertekad untuk tetap melaksanakan tanggung jawab Anda sampai menemukan pekerjaan baru. Jika ternyata nanti Anda memutuskan untuk tetap berada di perusahaan sekarang, issue seperti ini akan mempengaruhi kemungkinan promosi yang akan Anda terima.
2.Gaji dan besarnya tunjangan yang Anda terima. Gaji adalah masalah sensitif yang sebaiknya tidak dibicarakan dengan karyawan lain. Bahkan ada perusahaan yang mewanti-wanti agar setiap hal yang berkaitan dengan besarnya gaji, tunjangan atau bonus tidak dibicarakan dengan karyawan lainnya. Tujuannya agar tidak timbul suasana yang tidak mengenakkan dan tidak kondusif untuk bekerja karena saling iri dengan gaji rekan kerja. HRD memiliki penilaian tersendiri dalam menentukan besarnya gaji. Hal ini yang terkadang tidak diketahui semua karyawan sehingga mereka merasa bisa menilai gaji yang sebaiknya diterima oleh mereka dan karyawan lain.
3.Unek-unek tentang rekan kerja lain atau tentang bos Anda. Not all day is sunny day at work. Terkadang Anda harus mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari atasan Anda, deadline yang dimajukan tiba-tiba atau pekerjaan yang harus direvisi secara total gara-gara seorang anggota tim Anda yang pekerjaannya tidak kompeten. Rasanya Anda ingin ‘meledak’ saat itu juga dan mengungkapkan kekesalan dan kemarahan Anda terhadap bos atau rekan kerja kepada teman kantor. Tapi hati-hati dengan tindakan ini. Membicarakan rekan atau bos di belakang mereka akan berdampak kurang baik bagi Anda sendiri. Seungguhnya Anda sedang menciptakan image diri sebagai karyawan yang tidak professional dan tidak menghormati atasan, suka mencari masalah atau trouble maker. Bukan tidak mungkin mereka juga menganggap Anda sedang menghasut untuk membenci bos atau rekan kerja lain. Selain itu, secara terbuka atau terang-terangan mengungkapkan ketidaksukaan Anda akan menciptakan lingkungan kerja yang tidak nyaman bagi karyawan lain.
4.Kehidupan pribadi. Terkadang mengeluh bisa membuat perasaan Anda lebih ringan dalam menghadapi persoalan. Namun biasakanlah untuk tidak mengumbar masalah pribadi Anda kepada teman kantor. Tidak ada gunanya menceritakan kegagalan kehidupan percintaan Anda, jumlah pacar Anda sekarang, pertengkaran dengan suami atau pacar. Justru Anda akan dinilai sebagai orang yang tidak bisa mengatasi masalah Anda sendiri. Lagipula, walaupun Anda merasa sudah dekat dengan seorang teman kantor, belum tentu ia merasa nyaman mendengarkan semua cerita dan keluh kesah Anda.
5.Obrolan yang bersifat SARA. Sudah bukan jamannya lagi membicarakan mengenai hal-hal yang berkaitan dan menyinggung SARA. Terlebih lagi di kantor. Jangan sampai promosi Anda dimasa depan terganjal gara-gara Anda pernah mengungkapkan preferensi Anda tentang SARA karyawan lain di kantor.
6.Anda pernah memalsukan surat sakit Anda. Terkadang karena alasan jenuh, atau bosan ada saatnya Anda tidak bersemangat bekerja dan memilih untuk berbohong mengatakan bahwa Anda sakit kepada boss. Kejenuhan adalah hal yang bisa dimaklumi namun bohong dan bolos kerja bukanlah hal yang bisa dibanggakan, apalagi untuk diceritakan kepada teman kantor.

careers, jobs Indonesia, Indonesia Vacancy


Bookmark and Share